LATAR BELAKANG
Istilah Evaluasi dan Assesmen seringkali dipertukarkan, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial diantara keduanya. Assesmen dalam hal ini dinyatakan sebagai suatu cara yang tepat untuk mengungkap proses dan kemajuan belajar. Assesmen dapat memberikan umpan balik secara berkesinambungan tentang siswa untuk perbaikan pembelajaran. Sementara itu, evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai (judgement) terhadap hasil belajar berdasarkan data yang diperoleh melalui Assesmen (Kumano,2001: Mehrens dan Lehman, 1989). Selain dari itu, terdapat pula beberapa istilah lainnya yaitu: tes, testing, dan pengukuran yang juga seringkali dipertukarkan oleh guru. Makalah ini akan mencoba mereviu tentang pengertian dan perbedaan, persamaan dan perbedaan di antara istilah-istilah tesebut sehingga menambah khazanah pemahaman guru dalam melaksanakan praktek penialian di lapangan.
PENDAHULUAN
Selain dari istilah evaluasi (evaluation) dan asesmen (assesment) dikenal pula beberapa istilah lainnya yaitu pengukuran (measurement), tes (test) dan testing. Di antara ketiga istilah tersebut, tes merupakan istilah yang paling akrab dengan guru. Hal tersebut disebabkan karena Tes prestasi belajar (Achievement test) seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil belajar siswa. Padahal tes sebenarnya hanya merupakan salah satu alat ukur hasil pemakaiannya oleh guru dengan konsep pengukuran hasil belajar (measurement). Dengan demikian, perlu adanya upaya untuk memperkenalkan kepada guru tentang pengertian dan esensi tentang konsep evaluasi, asesmen, tes dan pengukuran yang sesungguhnya. Diantara peristilahan tersebut, Asesmen merupakan istilah yang belum dikenal secara umum. Para guru seringkali salah dalam menafsirkan makna asesmen yang sesungguhnya. Istilah asesmen perlu diperkenalkan kepada guru. Hal ini disebabkan karena asesmen telah menjadi khazanah dalam peistilahan dalam dunia pendidikan kita. Selain dari itu, pemahaman tentang asesmen juga dapat mendukung keberhasilan guru dalam melaksanakan praktek penilaian pembelajaran dikelas.
PEMBAHASAN
Istilah asesmen (Assesment) diartikan oleh Stggins (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen oleh Kumano (2001) sebagai " The process of Collecting data" bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
Gabel (1993: 338-390), mengkategorikan asesmen ke dalam kedua kelompok besar yaitu: asesmen tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong ke dalam asesmen alternatif (non-tes) adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar cetak, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assesment), portofolio, observasi, diskusi dan interviu (wawancara) .
Wiggins (1984), menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham (1995), menyatakan bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisah. Resnick (1985), menyatakan bahwa pada hakikatnya asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut. Marzano et al (1994), menyatakan bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.
B. PENGERTIAN TES
Tes merupakan suatu alat penilaian dalam bentuk tulisan untuk mecatat atau mengamati prestasi siswa yyang direncanakan untuk memperoleh nformasi tentang suatu atribut pendidikan atau suatu atribut psiologisang sejalan dengan target penilaian ( Jacobs & Chase, 1992; Alwasilah, 1996). Jawaban yang diharapkan dalam tes menurut Sudjana dan Ibrahim (2001) dapat secara tertulis, lisan, atau perbuatan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) tes didefinisikan sebagai pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas tertentu. Setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian, apabila suatu tugas atau pertanyaan menuntut harus dikerjakan oleh seseorang, tetapi tidak ada jawaban atas cara pengerjaan yang benar dan salah maka tugas atau pertanyaan tersebut bukanlah tes.
Tes merupakan salah satu upaya pengukuran terencana yang digunakan oleh guru untuk mencoba menciptakan kesempatan bagi siswa dalam memperlihatkan prestasi mereka yang berkaitan dengan tujuan yang telah ditentukan (Calongsi, 1995). Tes terdiri atas sejumlah soal yang harus dikerjakan siswa. Setiap soal dalam tes menghadapkan siswa pada suatu tugas dan menyediakan kondisi bagi siswa untuk menanggapi tugas atau soal tersebut.
Tes menurut Arikunto dan Jabar(2004) merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan menggunakan cara atau aturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini harus dibedakan pengertian antara tes, testing, testee. Testing adalah saat pada waktu tes tersebut di laksanakan (saat pengambilan tes). Sementara itu Gabel (1993) menyatakan bahwa testing menunjukkan proses pelaksanaan tes. Testee adalah merupakan yang mengerjakan tes. Mereka inilah yang akan dinilai atau diukur kemampuannya. Sedangkan Tester seorang yang diserahi tugas untuk melaksanakan pengambilan tes kepada responden.
Dewasa ini tes masih merupakan alat evaluasi yang umum digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran (Subekti & Firman, 1989). Menurut Fisal (1982:219), seringkali skor tes ini dipergunakan sebagai satu-satunya indikator dalam menilai penguasaan konsep, efektifitas metode belajar, guru serta aspek lainnya terhadap siswa di dalam praktek pendidikan. Padahal dengan mempergunakan tes, aspek kemampuan efektif siswa kurang terukur, sehingga sangatlah penting untuk tidak membuat generalisasi kemampuan melalui tes saja.
C. PENGERTIAN PENGUKURAN
Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalan hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera dengan mereka seperi melihat, mendengar, menyentuh, menerima, mencium, merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama, yaitu: 1. Penggunaan angka atau skala tertentu,
2. Menurut suatu aturan atau formula.
Measuerment (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif ( system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al 1996). Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli (Zainal & Nasution, 2001). Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau katrakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi krakteristik atau atributnya.
Measurement dapat dilakukan dengan cara tes atau cara non tes. Amalia (2003) mengungkapkan bahwa tes terdiri atas tes tertulis dan tes lisan. Sementara itu alat ukur non-tes terdiri atas pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil kerja siswa (produk), penugasan (proyek), dan kinerja (performance).
D. PENGERTIAN EVALAUSI
Evaluasi menurut Kumano (2001), merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan esesmen,. Sementara itu menurut Calongsi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran . Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa evaluasi merupakan pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Purwanto, 2002).
Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatf. Evaluasi sumatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan (Lehman, 1990).
PERBEDAAN TES, PENGUKURAN DAN EVALUASI
Pengkuran tes dan evaluasi dalam pendidikan berperan dalam seleksi, penempatan, diagnosa, remedial, umpan balik, memoivasi dan membimbing. Baik tes maupun pengukuran keduanya terkait dan menjadi bagian istilah evaluasi. Meski begitu, terdapat perbedaan antara mengukur dan mengevaluasi. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertentu. Dengan demikian pengukuran bersifat kuantitatif. Sementara itu evaluasi adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Dengan demikian pengambilan keputusan tersebut lebih bersifat kualitatif (Arikunto, 2003, Zainul & nasution, 2001).
Setiap butir pertanyaan atau tugas dalam tes harus selalu direncanakan dan mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar (Jacobs & chase, 1992). Sementara itu tugas ataupun pertanyaan dalam kegiatan pengukuran tidak selalu memiliki jawaban atau cara pengerjaan yang benar atau salah karena measurement dapat dilakukan melalui alat ukur non-tes, maka subyek untuk menjawab atau mengerjakan tugas, sementara itu pegukuran tidak selalu menuntuk jawaban atau pengerjaan tugas.
HUBUNGAN ASSESMEN,PENGUKURAN, TES DAN EVALUASI
Kumano (2001) mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan makna/pengertian, asesmen dan evaluasi memiliki hubungan. Hubungan antara asesmen dan evaluasi tersebut digambarkan sebagai berikut:
Evaluation
"to evaluate the data which was collected through assesment"
Assesment
"the process of collecting data which shows the development of learning"
(Aikenhead, Kumano: 2001).
Menurut Zainal & Nasution (2001) hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi adalah sebagai berikut: Evaluasi belajar baru dapat dilakukan dengan baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Akan tetapi tentu saja tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan karena informasi menggunakan alat ukur non-tes seperti observasi, skala rating, dan lain-lain.
Zainal & Nasution (2001) menyatakan bahwa guru mengukur berbagai kemampuan siswa. Apabila guru melangkah lebih jauh dalam menginterpretasikan skor sebagai hasil pengukuran tersebut dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar pertimbangan tertentu, maka kegiatan guru tersebut lebih melangkah lebih lebih jauh melalui evaluasi.
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa pengukuran adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi dengan pemberian bilangan kepada atribut dari subyek secara kuantitatif. Tes adalah himpunan pertanyaan yang harus di jawab oleh peserta tes. Penialian adalah Asesmen proses untuk memperoleh suatu informasi yang dapat digunakan pada evaluasi. Evaluasi adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil atau belum untuk pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang atau lembaga.
SARAN
Ketika kita ingin melakukan sebuah tes, maka tidak perlu kita memberikan ujian. melainkan dengan cara evaluasi dengan melihat hasil kemampuan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar