PENILAIAN HASIL PEMBELAJARAN
Kamis, 29 September 2016
Jumat, 23 September 2016
Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Oleh Dosen Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd
MODEL MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN
Model Evaluasi Pembelajaran merupakan desain evaluasi yang
dikembangkan oleh para ahli evaluasi, yang biasanya
dinamakan sama dengan pembuatnya, atau tahap evaluasinya.
1. Model Kirkpatrick
Kirkpatrick, salah seorang ahli evaluasi program training dalam bidang pengembangan sumber daya manusia menawarkan model evaluasi yang diberi nama Kirkpatriks tarining evaluation model, dalam evaluasi ini ada empat level program yaitu: reaction, leraning, behavior and result.
2. Model CIIP
Konsep evaluasi CIPP (context, Input, Process, and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965. sebagai hasil usahanya mengevaluasi The Elementary and Secondary Education Act (ESEA) dengan tujuan perbaikan bukan pembuktian.
3. Model Wheel (Roda) dari Beebe
Model ini berbentuk roda karena menggambarkan usaha evaluasi yang berkaitan dan berkelanjutan dan satu proses ke proses selanjutnya. Tiga tahap tersebut ialah pembentukan tujuan pembelajaran, penginterpretasian hasil pengukuran, dan penilaian
4. Model Provus (Discrepancy Model)
Model ini dikembangkan oleh Malcom Provus yang merupakan model evaluasi yang berangkat dari asumsi bahwa untuk mengetahui kelayakan suatu program.
5. Model Stake (Countenance Model)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu: desctription and judgement. Dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu: context, process and outcomes.
6. Model Brinkerhoff
Brinkerhoff dan CS (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri.
7. Model Tyler
Model ini dibangun atas dasar dua pemikiran, pertama evaluasi ditunjukan pada tingkah laku peserta didik, dan yang kedua evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksankan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil).
8. Model Alkin
Menurut Marvin Alkin (1969), evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif.
9. Illuminative Model (Malcom Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi terbuka (open ended). Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi.
1. Model Kirkpatrick
Kirkpatrick, salah seorang ahli evaluasi program training dalam bidang pengembangan sumber daya manusia menawarkan model evaluasi yang diberi nama Kirkpatriks tarining evaluation model, dalam evaluasi ini ada empat level program yaitu: reaction, leraning, behavior and result.
2. Model CIIP
Konsep evaluasi CIPP (context, Input, Process, and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965. sebagai hasil usahanya mengevaluasi The Elementary and Secondary Education Act (ESEA) dengan tujuan perbaikan bukan pembuktian.
3. Model Wheel (Roda) dari Beebe
Model ini berbentuk roda karena menggambarkan usaha evaluasi yang berkaitan dan berkelanjutan dan satu proses ke proses selanjutnya. Tiga tahap tersebut ialah pembentukan tujuan pembelajaran, penginterpretasian hasil pengukuran, dan penilaian
4. Model Provus (Discrepancy Model)
Model ini dikembangkan oleh Malcom Provus yang merupakan model evaluasi yang berangkat dari asumsi bahwa untuk mengetahui kelayakan suatu program.
5. Model Stake (Countenance Model)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu: desctription and judgement. Dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu: context, process and outcomes.
6. Model Brinkerhoff
Brinkerhoff dan CS (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri.
7. Model Tyler
Model ini dibangun atas dasar dua pemikiran, pertama evaluasi ditunjukan pada tingkah laku peserta didik, dan yang kedua evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksankan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil).
8. Model Alkin
Menurut Marvin Alkin (1969), evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif.
9. Illuminative Model (Malcom Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi terbuka (open ended). Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi.
Selasa, 20 September 2016
model evaluasi pembelajaran Dr.Dirgantara Wicaksana M.Pd
MODEL MODEL EVALUASI PEMBELAJARAN
Model Evaluasi Pembelajaran merupakan desain evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli evaluasi, yang biasanya dinamakan sama dengan pembuatnya, atau tahap evaluasinya.
1. Model Kirkpatrick
Kirkpatrick, salah seorang ahli evaluasi program training dalam bidang pengembangan sumber daya manusia menawarkan model evaluasi yang diberi nama Kirkpatriks tarining evaluation model, dalam evaluasi ini ada empat level program yaitu: reaction, leraning, behavior and result.
2. Model CIIP
Konsep evaluasi CIPP (context, Input, Process, and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965. sebagai hasil usahanya mengevaluasi The Elementary and Secondary Education Act (ESEA) dengan tujuan perbaikan bukan pembuktian.
3. Model Wheel (Roda) dari Beebe
Model ini berbentuk roda karena menggambarkan usaha evaluasi yang berkaitan dan berkelanjutan dan satu proses ke proses selanjutnya. Tiga tahap tersebut ialah pembentukan tujuan pembelajaran, penginterpretasian hasil pengukuran, dan penilaian
4. Model Provus (Discrepancy Model)
Model ini dikembangkan oleh Malcom Provus yang merupakan model evaluasi yang berangkat dari asumsi bahwa untuk mengetahui kelayakan suatu program.
5. Model Stake (Countenance Model)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu: desctription and judgement. Dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu: context, process and outcomes.
6. Model Brinkerhoff
Brinkerhoff dan CS (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri.
7. Model Tyler
Model ini dibangun atas dasar dua pemikiran, pertama evaluasi ditunjukan pada tingkah laku peserta didik, dan yang kedua evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksankan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil).
8. Model Alkin
Menurut Marvin Alkin (1969), evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif.
9. Illuminative Model (Malcom Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi terbuka (open ended). Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi.
1. Model Kirkpatrick
Kirkpatrick, salah seorang ahli evaluasi program training dalam bidang pengembangan sumber daya manusia menawarkan model evaluasi yang diberi nama Kirkpatriks tarining evaluation model, dalam evaluasi ini ada empat level program yaitu: reaction, leraning, behavior and result.
2. Model CIIP
Konsep evaluasi CIPP (context, Input, Process, and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965. sebagai hasil usahanya mengevaluasi The Elementary and Secondary Education Act (ESEA) dengan tujuan perbaikan bukan pembuktian.
3. Model Wheel (Roda) dari Beebe
Model ini berbentuk roda karena menggambarkan usaha evaluasi yang berkaitan dan berkelanjutan dan satu proses ke proses selanjutnya. Tiga tahap tersebut ialah pembentukan tujuan pembelajaran, penginterpretasian hasil pengukuran, dan penilaian
4. Model Provus (Discrepancy Model)
Model ini dikembangkan oleh Malcom Provus yang merupakan model evaluasi yang berangkat dari asumsi bahwa untuk mengetahui kelayakan suatu program.
5. Model Stake (Countenance Model)
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu: desctription and judgement. Dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan, yaitu: context, process and outcomes.
6. Model Brinkerhoff
Brinkerhoff dan CS (1983) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, seperti evaluator-evaluator lain, namun dalam komposisi dan versi mereka sendiri.
7. Model Tyler
Model ini dibangun atas dasar dua pemikiran, pertama evaluasi ditunjukan pada tingkah laku peserta didik, dan yang kedua evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksankan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil).
8. Model Alkin
Menurut Marvin Alkin (1969), evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif.
9. Illuminative Model (Malcom Parlett dan Hamilton)
Model ini lebih menekankan pada evaluasi terbuka (open ended). Kegiatan evaluasi dihubungkan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi.
Langganan:
Postingan (Atom)