Rabu, 12 Oktober 2016

TUGAS KULIAH ARTIKEL TES DAN NON-TES DOSEN Dr. Dirgantara Wicaksono,M.Pd

            ARTIKEL TES DAN NON-TES



        A.  NON TES

             Teknik penilaian non-tes dapat digunakan untuk mengetahui proses dan produk dari hasil belajar peserta didik, misalnya berkaitan dengan kompetensi sikap. Berikut ini beberapa jenis teknik penilaian non-tes.


1. Observasi

    Observasi atau pengamatan adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan menggunakan indera secara langsung. Observasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang akan diamati (Rosana,2014).

     Berdasarkan kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

1. Observasi berstruktur, yaitu semua kegiatan guru observer telah ditetapkan dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor-faktor yang telah diatur skenarionya. Isi dan luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.

2. Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti. Kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan itu sendiri.

     Berdasarkan teknis pelaksaannya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu:

1. Observasi Langsung, yaitu observasi yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diselidiki.

2. Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui perantara baik teknik maupun alat instrumen.

3. Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.


2. Wawancara

      Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang telah diuraikan diatas. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut hal-hal yang kurang jelas informasinya. Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk menelurusi kesukaran yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai.

    Wawancara terdiri dari dua jenis, yaitu wawancara langsung dan tidak langsung. Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara atau guru dengan orang yang diwawancara atau peserta didik tanpa melalui perantara. Wawancara tak langsung adalah pewawancara atau guru menanyakan sesuatu kepada peserta didik melalui perantara orang lain atau media.

    Berdasarakan bentuknya, pertanyaan wawancara dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Bentuk pertanyaan bersturktur, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban agar sesuai dengan apa yang terkandung dalam pertanyaan tersebut. Pertanyaan semacam ini biasanya digunakan jika masalahnya tidak terlalu kompleks dan jawabannya sudah kongkrit.

2. Bentuk pertanyaan tak berstruktur, yaitu pertanyaan yang bersifat terbuka, peserta didik secara bebas menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan semacam ini tidak memberi strukutur jawaban kepada peserta didik karena jawaban dalam pertanyaan itu bebas.

3. Bentuk pertanyaan campuran, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban campuran, ada yang berstruktur ada yang bebas.


C. Penugasan 

     Penugasan adalah suatu teknik penilaian yang menuntut peserta didik melakukan kegiatan tertentu diluar kegiatan pemebelajaran di kelas. Penugasan dapat diberikan dalam bentuk individual atau kelompok. Penugasan ada yang berupa pekerjaan rumah atau berupa proyek. Pekerjaan rumah adalah tugas yang harus diselesaikan peserta didik diluar kegiatan kelas, misalnya menyelesaikan soal-soal dan melakukan latihan. Proyek adalah suatu tugas yang melibatkan kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu dan umumnya menggunakan data lapangan.


D. Penilaian Portofolio

      Penilaian portofolio adalah suatu model penialaian yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membangun dan merefleksi suatu tugas atau karya melalui pengumpulan bahan-bahan  relevan dengan tujuan dan keinginan yang dibangun oleh peserta didik, sehingga hasil pekerjaan tersebut dapat dinilai dan dikontari oleh guru dala periode tertentu. Jadi pernilaian portofolio merupakan suatu pendekatan dalam penilaian kinerja peserta didik. Penilaian portofolio dibagi menjadi dua jenis, yaitu portofolio proses dan produk.


1. Portofolio Proses

   yaitu menunjukkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan sekumpulan indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum serta menunjukkan semua hasil dari awal sampai dengan akhir selama kurun waktu tertentu. Contoh portofolio proses yaitu portofolio kinerja (working portofolio) yang digunakan untuk memantau kemajuan atau perkembangan dan menilai peserta didik dalam mengelola kegiatan belajar mereka sendiri. Pada portofolio kerja ini yang dinilai adalah cara kerja dan hasil kerja siswa.

2. Portofolio Produk

       yaitu penilaian ini hanya menekankan pada penugasan dari tugas yang dituntut dalam standar kompetensi, kompetensi dasar dan sekumpulan indikator hasil belajar serta hanya menunjukan evidence paling baik tanpa memperhatikan bagaimana dan kapan evidence tersebut diperoleh.Contoh portofolio produk adalah portofolio penampilan (show portofolio) dsn portofolio dokumentasi (documentary portofolio).

a) Portofolio penampilan 

    digunakan untuk memilih hal-hal yang paling baik yang menunjukan bahan atau pekerjaan terbaik yang dihasilkan oleh siswa.

b) Portofolio dokumentasi 

        adalah seleksi hasil kerja terbaik siswa yang akan diajukan dalam penilaian. Portofolio dokumentasi tidak hanya berisi hasil kerja siswa, tetapi semua proses yang digunakan oleh siswa untuk menghasilkan karya tertentu.


E. Penilaian Diri  

     Penialian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya berkaitan dengan kompetensi yang menjadi tujuan pembelajaran (Rosana,2014).


G. Jurnal 

      Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan kinerja ataupun sikap peserta didik yang dipaparkan secara dekriptif. (Rosana,2014). 



     B. TES 

       Sebagai alat pengukur dan penilaian, tes ada beberapa macam model menurut pemakaian beberapa macam model menurut pemakai dan waktu atau kapan digunakannya tes tersebut. Model-model tes tersebut yaitu: a)Tes Seleksi, b) Tes Awal, c) Tes Akhir, d) Tes Diagnostik, e) Tes Formatif, dan f) Tes Sumatif.


1. Tes Seleksi

   Tes seleksi ini jarang lagi kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Tes ini juga bisa kita sebut, tes pernyaringan bagi calon siswa tahun ajaran baru yang ingin memasuki suatu lembaga sekolah. Materi tes yang digunakan dalam tes ini melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Misalnya seorang siswa akan melanjutukan studinya di perguruan tinggi IAIN di prodi bahasa arab, maka siswa tersebut akan diberikan ujian atau tes seleksi yang soalnya mengenai bahasa Arab. Apabila nilai yang didapatkannya memenuhi syarat dan nilainya tinggi maka siswa tersebut bisa melanjutkan studinya di IAIN. Tes ini bisa juga kita laksanakan dengan lisan, secara tulis dan secara perbuatan.


2. Tes Awal

   Tes ini juga sering kita dengar dengan istilah pre-test. Tes ini digunakan pada saat akan berlangsungnya penyampaian materi yang akan di ajarkan oleh guru kepada siswa dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana materi atau bahan yang yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh siswa. Tes ini mengandung makna, yaitu: tes yang dilaksanakan sebelum berlangsungnya proses pembelajaran terjadi. Materi tes yang diberikan dan soalnya mudah-mudah akan tetapi memenuhi pokok pembahasan yang seharusnya soal tentang yang seharusnya materi tersebut telah dikuasai oleh siswa. Contoh soal tentang huruf jarr yang ditanyakan pada mahasiswa bahasa arab semester lima. Tes ini dapat dilakukan dengan tes lisan ataupun tulisan.


3. Tes Akhir

   Tes ini lebih banyak diketahui dengan post-test, tes ini dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran suatu materi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materi yang dipelajari. Materi tes ini berkaitan dengan materi yang telah diajarkan kepada siswa sebelumnya, terutama materi tentang sub-sub penting supaya guru kita dapat mengetahui mana lebih baik hasil kedua tes tentang pemahaman siswa. Apabila siswa lebih memahami suatu materi etelah proses pembelajaran maka, program pengajaran dinilai berhasil.


4. Tes Diagnostik

  Tes ini adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelamahan siswa sehingga dengan mengetahui kelemahan siswa tersebut, maka kita akan bisa memperlakukan siswa tersebut dengan tepat. Materi tes yang ditanya dalam tes diagnostik biasanya mengenai hal-hal tertentu yang juga merupakan pengalaman sulit bagi siswa. Tes ini dapat dilaksanakan dengan cara lisan, tulisan, atau dengan mengkolabirasi kedua cara tes. Dalam catatan, tes ini hanya untuk memeriksa, jika hasil pemeriksaan tersebut membuktikan kelemahan daya serap siswa maka terhadap suatu pembelajaran. Maka siswa tersebut akan dilakukan pembimbingan secara khusus kepadanya.


5. Tes Formatif

    Tes ini merupakan tes hasil belajar yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai pelajaran setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan, tes ini dilaksanakan biasanya di tengah-tengah perjalanan program pembelajaran. Tes ini juga biasanya disebut dengan ujuan harian. Dalam hal ini jika siswa telah menguasai materi tersebut maka guru akan meneruskan materi selanjutnya, jika materi tersebut belum dapat dikuasai menyeluruh maka guru harus mengajarkan bagian materi yang belum dipahami.


6. Tes Sumatif

    Tes ini tidak asing bagi siswa, karena tes ini adalah tes akhir dari program pembelajaran. Tes ini juga bisa disebut dengan EBTA, tes akhir semester, UAN. Tes ini dilaksanakan pada akhir program pembelajaran. Seperti setiap akhir semester, akhir tahun. Materi yang di tes kan adalah materi yang telah diajarkan selama satu semester. Dengan demikian materi ini lebih banyak dari materi tes yang ada pada tes fofmatif. Tes ini biasanya dilakukan dengan cara tulisan, dan biasanya siswa memperoleh soal yang sama satu sama lain. Tes memiliki tingkat tes yang sukar atau lebih berat dari tes formatif. Dengan ada tes ini maka kita bisa menentukan peringkat atau rangking siswa selama program pembelajaran, dan juga tes ini menentukan kelayakan seorang siswa untuk mengikuti program pembelajaran selanjutnya.  

  
           
           
      
      

TUGAS MAKALAH PERBEDAAN PENGERTIAN PENGUKURAN, TES, PENILAIAN DAN EVALUASI DOSEN Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd

                                                      LATAR BELAKANG


    Istilah Evaluasi dan Assesmen seringkali dipertukarkan, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang esensial diantara keduanya. Assesmen dalam hal ini dinyatakan sebagai suatu cara yang tepat untuk mengungkap proses dan kemajuan belajar. Assesmen dapat memberikan umpan balik secara berkesinambungan tentang siswa untuk perbaikan pembelajaran. Sementara itu, evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai (judgement)  terhadap hasil belajar berdasarkan data yang diperoleh melalui Assesmen (Kumano,2001: Mehrens dan Lehman, 1989). Selain dari itu, terdapat pula beberapa istilah lainnya yaitu: tes, testing, dan pengukuran yang juga seringkali dipertukarkan oleh guru. Makalah ini akan mencoba mereviu tentang pengertian dan perbedaan, persamaan dan perbedaan di antara istilah-istilah tesebut sehingga menambah khazanah pemahaman guru dalam melaksanakan praktek penialian di lapangan.


                                                      PENDAHULUAN 


    Selain dari istilah evaluasi (evaluation) dan asesmen (assesment) dikenal pula beberapa istilah lainnya yaitu pengukuran (measurement), tes (test) dan testing. Di antara ketiga istilah tersebut, tes merupakan istilah yang paling akrab dengan guru. Hal tersebut disebabkan karena Tes prestasi belajar (Achievement test) seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil belajar siswa. Padahal tes sebenarnya hanya merupakan salah satu alat ukur hasil pemakaiannya oleh guru dengan konsep pengukuran hasil belajar (measurement). Dengan demikian, perlu adanya upaya untuk memperkenalkan kepada guru tentang pengertian dan esensi tentang konsep evaluasi, asesmen, tes dan pengukuran yang sesungguhnya. Diantara peristilahan tersebut, Asesmen merupakan istilah yang belum dikenal secara umum. Para guru seringkali salah dalam menafsirkan makna asesmen yang sesungguhnya. Istilah asesmen perlu diperkenalkan kepada guru. Hal ini disebabkan karena asesmen telah menjadi khazanah dalam peistilahan dalam dunia pendidikan kita. Selain dari itu, pemahaman tentang asesmen juga dapat mendukung keberhasilan guru dalam melaksanakan praktek penilaian pembelajaran dikelas.

                                                       PEMBAHASAN 



A. PENGERTIAN ASESMEN

     Istilah asesmen (Assesment) diartikan oleh Stggins (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen oleh Kumano (2001) sebagai " The process of Collecting data" bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar siswa merupakan hal penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
     Gabel (1993: 338-390), mengkategorikan asesmen ke dalam kedua kelompok besar yaitu: asesmen tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong ke dalam asesmen alternatif (non-tes) adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar cetak, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assesment), portofolio, observasi, diskusi dan interviu (wawancara) .
     Wiggins (1984), menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, maka Popham (1995), menyatakan bahwa asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisah. Resnick (1985), menyatakan bahwa pada hakikatnya asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut. Marzano et al (1994), menyatakan bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya.


B. PENGERTIAN TES

    Tes merupakan suatu alat penilaian dalam bentuk tulisan untuk mecatat atau mengamati prestasi siswa yyang direncanakan untuk memperoleh nformasi tentang suatu atribut pendidikan atau suatu atribut psiologisang sejalan dengan target penilaian  ( Jacobs & Chase, 1992; Alwasilah, 1996). Jawaban yang diharapkan dalam tes menurut Sudjana dan Ibrahim (2001) dapat secara tertulis, lisan, atau perbuatan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) tes didefinisikan sebagai pertanyaan atau tugas atau seperangkat tugas  tertentu. Setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian, apabila suatu tugas atau pertanyaan menuntut harus dikerjakan oleh seseorang, tetapi tidak ada jawaban atas cara pengerjaan yang benar dan salah maka tugas atau pertanyaan tersebut bukanlah tes.
    Tes merupakan salah satu upaya pengukuran terencana yang digunakan oleh guru untuk mencoba menciptakan kesempatan bagi siswa dalam memperlihatkan prestasi mereka yang berkaitan dengan tujuan yang telah ditentukan (Calongsi, 1995). Tes terdiri atas sejumlah soal yang harus dikerjakan siswa. Setiap soal dalam tes menghadapkan siswa pada suatu tugas dan menyediakan kondisi bagi siswa untuk menanggapi tugas atau soal tersebut.
     Tes menurut Arikunto dan Jabar(2004) merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan menggunakan cara atau aturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini harus dibedakan pengertian antara tes, testing, testee. Testing adalah saat pada waktu tes tersebut di laksanakan (saat pengambilan tes). Sementara itu Gabel (1993) menyatakan bahwa testing menunjukkan proses pelaksanaan tes. Testee adalah merupakan yang mengerjakan tes. Mereka inilah yang akan dinilai atau diukur kemampuannya. Sedangkan Tester seorang yang diserahi tugas untuk melaksanakan pengambilan tes kepada responden.
     Dewasa ini tes masih merupakan alat evaluasi yang umum digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran (Subekti & Firman, 1989). Menurut Fisal (1982:219), seringkali skor tes ini dipergunakan sebagai satu-satunya indikator dalam menilai penguasaan konsep, efektifitas metode belajar, guru serta aspek lainnya terhadap siswa di dalam praktek pendidikan. Padahal dengan mempergunakan tes, aspek kemampuan efektif siswa kurang terukur, sehingga sangatlah penting untuk tidak membuat generalisasi kemampuan melalui tes saja.



C. PENGERTIAN PENGUKURAN

     Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalan hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera dengan mereka seperi melihat, mendengar, menyentuh, menerima, mencium, merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama, yaitu: 1. Penggunaan angka atau skala tertentu,
2. Menurut suatu aturan atau formula.


    Measuerment (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif ( system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al 1996). Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang atau suatu obyek tertentu yang mengacu  pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli (Zainal & Nasution, 2001). Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau katrakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi krakteristik atau atributnya. 
     Measurement dapat dilakukan dengan cara tes atau cara non tes. Amalia (2003) mengungkapkan bahwa tes terdiri atas tes tertulis dan tes lisan. Sementara itu alat ukur non-tes terdiri atas pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil kerja siswa (produk), penugasan (proyek), dan kinerja (performance).



D. PENGERTIAN EVALAUSI

     Evaluasi menurut Kumano (2001), merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan esesmen,. Sementara itu menurut Calongsi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran . Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa evaluasi merupakan pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Purwanto, 2002).
      Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatf. Evaluasi sumatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan (Lehman, 1990).



                 PERBEDAAN TES, PENGUKURAN DAN EVALUASI

Pengkuran tes dan evaluasi dalam pendidikan berperan dalam seleksi, penempatan, diagnosa, remedial, umpan balik, memoivasi dan membimbing. Baik tes maupun pengukuran keduanya terkait dan menjadi bagian istilah evaluasi. Meski begitu, terdapat perbedaan antara mengukur dan mengevaluasi. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertentu. Dengan demikian pengukuran bersifat kuantitatif. Sementara itu evaluasi adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Dengan demikian pengambilan keputusan tersebut lebih bersifat kualitatif (Arikunto, 2003, Zainul & nasution, 2001).
 Setiap butir pertanyaan atau tugas dalam tes harus selalu direncanakan dan mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar  (Jacobs & chase, 1992). Sementara itu tugas ataupun pertanyaan dalam kegiatan pengukuran  tidak selalu memiliki jawaban atau cara pengerjaan yang benar atau salah karena measurement dapat dilakukan melalui alat ukur non-tes, maka subyek untuk menjawab atau mengerjakan tugas, sementara itu pegukuran tidak selalu menuntuk jawaban atau pengerjaan tugas.

  HUBUNGAN ASSESMEN,PENGUKURAN, TES DAN EVALUASI

Kumano (2001) mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan makna/pengertian, asesmen dan evaluasi memiliki hubungan. Hubungan antara asesmen dan evaluasi tersebut digambarkan sebagai berikut:
                                                   
                                                     Evaluation
                          "to evaluate the data which was collected through assesment"
                                                    Assesment
                          "the process of collecting data which shows the development of learning"
                            (Aikenhead, Kumano: 2001).

Menurut Zainal  & Nasution (2001) hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi adalah sebagai berikut: Evaluasi belajar baru dapat dilakukan dengan baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Akan tetapi tentu saja tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan karena informasi menggunakan alat ukur non-tes seperti observasi, skala rating, dan lain-lain.
Zainal & Nasution (2001) menyatakan bahwa guru mengukur berbagai kemampuan siswa. Apabila guru melangkah lebih jauh dalam menginterpretasikan skor sebagai hasil pengukuran tersebut dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar pertimbangan tertentu, maka kegiatan guru tersebut lebih melangkah lebih lebih jauh melalui evaluasi.


                                          KESIMPULAN 

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa pengukuran adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi dengan pemberian bilangan kepada atribut dari subyek secara kuantitatif. Tes adalah himpunan pertanyaan yang harus di jawab oleh peserta tes. Penialian adalah Asesmen proses untuk memperoleh suatu informasi yang dapat digunakan pada evaluasi. Evaluasi adalah kegiatan untuk mengetahui apakah suatu program telah berhasil atau belum untuk pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang atau lembaga.


                                             SARAN

Ketika kita ingin melakukan sebuah tes, maka tidak perlu kita memberikan ujian. melainkan dengan cara evaluasi dengan melihat hasil kemampuan siswa.